Jumat, 02 Mei 2008

Proses Penggulaan dan Pengaraman Keripik Pisang


Penggulaan merupkan tahap yang perlu dilakukan sesuai penggorengan. Sebaiknya gunakan gula pasir putih yang digiling hingga halus, kemudian dilarutkan dalam air dengan perbandingan 4:1, dan diaduk hingga merata. larutan dipanaskan hingga mendidih. Setelah mendidih, api segera dikecilkan untuk menjaga agar larutan gula tetap panas.
Jeda waktu antara keripik yang telah digorengdengan pencelupan gula sebaiknya tidak lebih dari satu menit. Hal tersebut untuk membantu penyerapan gula ke dalam keripik pisang.
Setelah dicelupkan, keripik harus didinginkan. Biasanya juga diberi gula halus. Keripik yang baru ditiriskan dan masih panas harus segera ditaburi tepung gula, kemudian diaduk perlahan himgga merata. Teknik ini juga digunakan untuk menggarami atau memberi flavor tertentu, seperti coklat.
Untuk pengolahan keripik pisang dalam skala besar, biasanya digunakan natrium metabisulfit natrium bisulfit. Senyawa ini digunakan untuk mencegah terbentuknya warna kehitaman atau coklat tua pada paermukaan irasan pisang.
Untuk membuat 1 liter larutan bisulfit diperlukan senyawa natrium metabisulfit atau natrium bisulfit 3-5 gram, dicampur asam sitrat 2 gam, garam 10 gram, dan air bersih 1 liter. Semua bahan dicampur dan diaduk sampai menjadi larutan yang rata.Perendaman didalam larutan sulfit berlangsung selama 8 menit.
Larutan sulfit dikategorikan aman untuk kesehatan.Menurut Permenkes No.722/1988, penggunaan natrium sulfit atau natrium bisulfit termasuk dalam kategori aman. Menurut Europian Union, batas aman penggunaan sulfit maksimum 1000 mg/kg.



Tamara Bleszynski
(Bulan sabit dan Bintang Mengantarkan Saya kepada Islam)


Suatu senja di Australia, saat saya sedang berkupul bersama teman-teman di halaman sekolah, saya melihat bulan sabit dan bintang berdekatan. Tak lama kemudian, setelah saya renungkan, saya baru sadar bahwa pemendangan yang amat menakjubkan itu seringkali saya saksikan di Tanah Air. Tapi, dimana ya?
Saya baru ingat bahwa itu adalah lambang yang terdapat di kubah atau menara masjid. Pemandangan inilah yang mengantarkan saya kepada islam. Saya bersyukur mendapat hidayah-Nya justru ketika berada jauh di negeri orang.

Sejak kejadian itu, saya tertarik untuk mengetahui islam lebih dalam. Saya sering mengamati perilaku umat islam di Australia. Para pemeluk islam ini sangat taat beribadah, terutama shalat lima waktu. Bahkan, disuruh tidak makan pun (puasa) mereka mau. Sungguh, islam merupakan agama yang sarat dengan nilai-nilai filosofi.
Tamara Nathalia Christina Mayawati Bleszynski, itulah nama lengkap saya. Tapi, saya lebih dikenal dengan nama Tamara Bleszynski. Umur saya 22 tahun. Ppa saya bernama Zbegniew Bleszynski. Ppa saya berasal dari Polandia, Eropa Timur. Ia beragama Kristen Katolik. Sedangkan, mama bernama Farida Gasik, orang Jawa Barat, beragama Islam. Karena orang tua saya bercerai, akhirnya saya ikiut bersama papa, dan sekaligus mengikuti agamanya.
Ketertrikan saya pada agama islam, juga terpaut pada sisi ketaatan pemeluknya. Hal semacam ini menurut sayajauh berbeda dibanding dengan keyakinan saya yang lama. Saya juga penasaran dengan gambaran sosok Tuhan dan Nabi dalam Islam saya mengamati, dalam agama lain, sosok Tuhan dan Nabi digambarklan dengan simbol dan wujud kebendaan. Namun dalam Islam, Tuhan tak digambarkan secara konkret. Walaupun demikian, Tuhan dan Nabi sangat dekat dengan mereka --lebih dekat dari urat leher manusia.
Berawal dari rasa penasaran dan ketertarikan itulah saya mulai mempelajari beberapa buku mengenai islam. Saya juga membaca Al-Qur'an untuk mengetahui dan membandingkan ajaran Islam dengan agama yang saya peluk dulu. Ternyata, ajaran-ajaran Alkitab itu ada juga dalam Al-Qur'an, seperti kisah Nabi Isa. Namun Al-Qur'an lebih komplit, dan sisi pandanganya berbeda dengan keyakinan saya selama ini saya anut. Setelah melalui proses pengamatan dan belajar selama beberapa bulan, akhgirnya saya putuskan untuk memeluk agama Islam.


Masuk islam
Keinginan saya untuk masuk Islam saya sampaikan kepada mama. Keputusan itu membuat mama bahagia. Mama menyambut dengan baik keputusan saya itu. Papa pun tak menghambat niat baik saya itu. Beliau memahami keputusan saya. Keluarga kami memang sangat demokratis.
Walaupun papa seorang katolik, toh ia sudah tinggal di Indonesia selama 40 tahun, dan memahami budaya kaum muslim. Papa sering menyumbang untuk pembangunan masjid, dan pada bulan puasa papa suka menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa. Hal inilah yang membuat saya bangga kepada papa. Singkat cerita, pada taun 1995 lalu saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat.
Selanjutnya, dalam proses perpindahan agama, awalnya saya akui cukup berat melakukan penyesuaian dengan agama baru itu. Berbagai cara saya lakukan untuk mempelajari Islam, terutama shalat. Antara lain membaca berbagai buku yang berisi tuntunan shalat.
Saya juga menggunakan kaset-kaset panduan shalat. Mula-mula saya shalat memakai earphone, sambil mendengarkan petunjuk dari tape recorder. Tak sampai satu bulan saya sudah hafal semua bacaan dan gerakan shalat. Alhamdulillah, saya sudah dapat menjalankan shalat lima waktu.
Setelah masuk Islam saya merasakan berbabagai perubahan yang mencolok dalam hidup saya. Pikiran saya lebih tenang dan terbuka, karena saya punya pedoman dalam menilai yang benar dan yang salah, yang haram dan yang halal, juga yang baik dan buruk.

Jumat, 28 Maret 2008

eNjoy aZa..........??!!??!!

kita sebagai manusia kita harus menjalanin hidup dengan canda, tawa, humor & yang terpenting kita harus beribadah sesuai dengan kepercayaan kita masing - masing, key john.............???????
hidup kita jangan dibikin pucing makanya kita haruz eNjoy aZa getu loch..................!!!!!!!!